Jumat, 13 Januari 2012

POTENSI KEPARIWISATAAN KABUPATEN POLEWALI MANDAR

A. PENDAHULUAN

Kabupaten Polewali Mandar adalah sebuah kabupaten yang dalam peta administratif masuk ke dalam wilayah Sulawesi Barat melalui Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004.

Sebelum dinamakan Kabupaten Polewali Mandar pada tahun 2004, daerah ini bernama Polewali Mamasa (Polmas) yang secara administratif berada dalam wilayah Sulawesi Selatan. Setelah terjadi pemekaran Kabupaten Mamasa sebagai kabupaten sendiri, nama kabupaten Polewali Mamasa pun diganti menjadi Kabupaten Polewali Mandar.

Kabupaten Polewali Mandar memiliki sejumlah kekhasan, seperti kekayaan alam dan kebudayaan sebagai potensi pariwisata yang besar dibandingkan dengan daerah lain di Sulawesi Barat. Diantara potensi besar tersebut adalah, wisata bahari, wisata alam, wisata budaya dan kerajinan yang tersebar hampir disemua kecamatan. Mulai dari wisata bahari kepulauan dan pesisir pantai yang sangat indah dan alami. Ditambah dengan wisata pedalaman yang memiliki wisata tirta, wisata ritual dan situs hingga wisata sosial dan publik yang juga menawarkan sejuta keindahan kebudayaan dan alam yang eksotis.

Bagi siapapun pejalan budaya dan petandang wisata tentu akan pulang membawa sejuta kesan yang tak dapat dilupakan. Sebab segera setelah matahari terbit dari ujung timur, maka hamparan kilauan pasir putih disepanjang pantai ditambah aktivitas para nelayan yang turun melaut atau pulau dari laut, mulai dariKKecamatan Binuang hingga Kecamatan Tinambung akan membentang panorama nan eksotis yang menawarkan sejuta kedamaian sekaligus penegasan akan ketegaran para pelaut ulung Mandar. Menyusur samudera dengan Sandeq (perahu bercadas khas Mandar).

Akhirnya bersiap-siaplah untuk menjadi To Mandar (orang Mandar). Dengan datang dan meneguk wai marandanna (air putih-nya) orang mandar di Kabupaten Polewali Mandar, ditemani simpul senyum warga masyarakat ramah dan setiap saat siap menjadi penyaksi dan teman setiap kedatangan pejalan budaya dan wisatawan.

Mewakili seluruh staf Pemerintah Kabupaten Polewali Mandarmenyatakan akan memberikan pelayanan kepada para petandan budaya dan wisatawan. Terlebih, bantuan kepada investor untuk berinvestasi di daerah yang tengah mengembangkan investasi di berbagai bidang. Utamanya bidang perdagangan, pertambangan dan gas yang ke depan akan kian kompetitif, mengikat kekhasan kekayaan potensi yang baik.

Selamat datang di Kabupaten Polewali Mandar.

B. SAMBUTAN BUPATI

Kami mengucapkan selamat datang dan haturan terima kasih kepada segenap pihak yang telah membantu pencapaian pembangunan di Kabupaten Polewali Mandar. Khususnya di bidang kebudayaan, seni dan Kepariwisataan.

Kabupaten Polewali Mandar dengan luas wilayah 2.022.30 km2 yang terbagi dalam 15 kecamatan terletak di antara 20 40"303�00�LU dan 11��040�27�BT yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Mamasa do Sebelah Utara, Kabupaten Pinrang di Sebelah Timur, Selat Makassar Sebelah Selatan dan Kabupaten Majene di Sebelah Barat.

Ditakdirkan memiliki beragam keunikan dan kekayaan alam yang melimpah, mulai dari kekayaan kebudayaan, kekayaan alam pesisiran, bahari dan pedalaman. Serta karya cipta seni budayayang merupakan representasi pintal nilai-nilai kearifan orang Mandar yang melekat pada setiap masyarakatnya.

Selaku pemerintah, kami tentu sangat menyambut positif diterbitkan buku profil kebudayaan dan pariwisata ini. Sebab bagi kami, ini adalah bahagian dari cara Kami mentafsir konsep dasar kepemimpinan Mandar yang memahami� tarrare do alloo tammatindo di wongi mappikkirri atuowanna pa�banua� (gelisah di siang hari, tak lelap di malam hari, memikirkan prima untuk warga masyarakat). Yang lalu terjewantahkan ke dalam visi kabupaten yang berorientasi kepada terwujudnya masyarakat Kabupaten Polewali Mandar bernafaskan ajaran agama dan nilai-nilai budaya sipamandar ( saling menguatkan).

Nah, tentu hal ini tidaklah berlebihan, sebab kekayaan kebudayaan, seni dan keragaman eksotika alam di Polewali mandar ini adalah potensi dan aset yang tak ternilai. Utamanya dalam melecut minat investor, para pejalan budaya dan wisatawan untuk berivestasi dan bertandan ke Kabupaten Polewali Mandar.

Akhirnya dengan rendah hati, Kami mengundang para investor, pejalan budaya, para wisatawan baik domestik maupun mancanegara untuk berkunjung serta menikmati kakhasan dan keunikan sewni budaya dan alam di Kabupaten Polewali mandar. Terima Kasih .....

C. SAMBUTAN KEPALA DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA

Selamat datang

Dengan segenap kerendahan hati, Kami mengucapkan tawe� para salama� to pole anna toripolei ( selamat kepada Anda yang pendatang dan kami yag didatangi). Haturan terima kasih Kami sampaikan, serta ajakan kepada Anda untuk datang mengenal dan berjabat tangan erat lebih dekat dan lebih karib dengan kami.

Jamaknya pembuka tirai, Kami menyingkapkan keistimewaan, keunikan dan kekhasan panorama alam yang teramat sangat alami dan eksotis, kekhasan kebudayaan, situs dan ritual yang memikat di warnai seulas senyum Kami bersama warga Kabupten Polewali Mandar. Melihat dari dekat keistimewaan perahu Sandeq. Perahu bercadik yangn memintal peradaban degan mengarungi gelombang samudera sebagai penegasan bahwa pelaut Mandar, benarlah pelaut yang ulung. Atau tentang pintal sarung sutera Mandar penegasan komitmen kesetiaan perempuan-perempuan Mandar yang telah mendunia melintasi batas-batas area budaya. Serta situs penegasan hukum dan demokrasi yang telah mengantarkan Mandar kepada keemasan sejarah sebuah peradaban. Sebuah entitas agung nan luhur.

Dengan pelayanan prima, Kami siap menunggui untuk menemani para pejalan budaya, wisatawan mancanegara dan domestik untuk melihat dan merasakan kekhasan kami dengan setumpuk pasilitas-pasilitas pelayanan sebagai kabupaten yang telah siap untuk didatangi. Sehingga, sekali lagi, dengan rendah hati Kami menyampaikan, bahwa segera setelah matahari terbit dari balik gulungan gelombang dan ombak teluk Mandar, Kami telah siap mengantarkan anda hingga matahari terbenam di puncak-puncak bebukitan yang menawarkan sejuta eksotika. Meninggalkan jejak-jejak yang tidak terlupakan, sebagai sebuah kehangatan. Bukan sebagai mimpi, tetapi sebuah kenyataan kehangatan kebudayaan tanah Mandar.

Akhirnya, Kami mengundang anda semua untuk bertandang ke Kabupaten Polewali Mandar dimana puncak pencapaian keemasan kebudayaan Mandar.

D. POTENSI SUMBER DAYA ALAM MARITIM

Kabupaten Polewali Mandar, sebagai kabupaten yang memiliki kekhasan kebudayan maritim menjadi tidaklah lengkap jika tidak melihat dan mandatangi pulau-pulau yang bertebaran di sepanjang pantai Polewali. Tercatat sedikitnya ada 6 pulau-pulau kecil mulai dari Pulau Battoa, Pulau Tangnga, Pulau Tosalama�, Pulau Gusung Toraja dan Pulau Karamasang serta Pulau Panampeang yang bisa dijangkau dengan menggunakan kendaraan perahu motor milik warga yang menjangkar di Kecamatan Binuang dan Kecamatan Polewali dengan jarak tempuh sekitar setengah jam perjalanan. Yang menarik dari pulau ini, selain keindahan alamnya, beberapa diantaranya pulau-pulau ini hingga kini belumlah berpenghuni. Sehingga cukup refresentatif untuk ditempati bersantai atau rekreasi bersama keluarga ditemani semilir angin laut dan debur gelombang yang lembut, tenang dan berahabat seraya memancing, berjemur dan berenang.

Selain beberapa pulau ini tidak berpenghuni, khusus pulau � pulau yang berpenghuni juga menawarkan beragam aktivitas masyarakat khas masyarakat pesisiran yang menarik dan selalu tampil dengan seulas senyum ramah menyambut siapa saja yang datang bertandang ke tempat ini. Belum lagi flora dan fauna laut yang juga menawarkan keindahan tersendiri. Ditambah denga belantara hutanbakau yang beberapa diantaranya meliuk dan menambah keindahan bibir pantai pulau-pulau ini.

Sebelum mencapai pulau-pulau ini, utamanya jika perjalanan laut yang ditempuh menyusuri peisir pantai dan dimulai dari Kecamatan Polewali, seain aktivitas penangkapan ikan secara tradisional akan banyak ditemui, pemandangan bagang yang berdiri tegak diatas permukaan laut pun akan banyak dijumpai. Termasuk aktivitas penambak rumput laut yang bertebaran di sepanjang pantai. Seakan menegaskan, betapa karibnya masyarakat sekitar pulau ini dengan laut. Sebagai tempat mereka untuk menafkahi hidup dan mengisi waktu dalam kehidupan mereka.

Aktivitas lainnya yang juga akan sangat banyak ditemui disepanjang perjalanan menuju pulau-pulau tersebut, adalah beberapa warga masyarakat yang mencari nafkah dengan menangkap ikan menggunakan jala atau alat pancing dari atas perahu-perahu tradisional milik mereka. Sehingga, selain keindahan alam laut yang akan kita tenui dalam perjalanan menyusuri pulau-pulau ini, kita juga akan diperkenalkan denga beragam jenis perahu-perahu tradisonal masyarakat sekitar pulau ini. Mulai dari soppe-soppe, lepa-lepa, ba,go dan lain sebagainya yang kesemuanya itu, mereka gunakan untuk mencari nafkah di lautan.

Palippis sebagai salah satu objek wisata pesisir pantai juga menawarkan keindahan panorama alam laut yang sangat eksotis. Palippis yang terletak di Desa Bala Kecamatan Balanipa ini sekitar 20 Km dari ibu kota Kabupaten Polewali Mandardan terletak di jalan poros Provinsi Sulawesi Barat ini menjadi kian menarik, sebab selain hamparan pasir putih yang memanjang, di sepanjang pantai keindahan alam perbukitan dan batu karang dan tebing dan goa alam pun tertawarkan. Utamanya di Lawuang yang memanjang dan bersambung dengan pantai Palippis dengan garis pantai kurang lebih sepanjang tiga kilo meter juga menawarkan eksotika tebing karang yang menyerupai ngarai.

E. PERAHU SANDEQ

Perahu Sandeq juga adalah sebuah ikon kehebatan maritim masyarakat mandar, cukup beralasan memang, sebab kehebatan para pelaut Ulung Mandar dibuktikan melalui pelayaran yang menggunakan perahu bercadik ini. Dalam keseharian perahu Sandeq digunakan untuk mencari nafkah di laut yang terdalam sekalipun. Tercatat dalam sejarah perahu Sandeq telah terbukti sanggup berlayar hingga ke Singapura, Malaysia, Jepang dan Madagaskar.

Sebab selain ia memiliki bentuk yanng elok nan cantik dengan panjang kurang lebih 9-16 meter dengan lebar 0,5-1 meter juga mampu dipacu hingga kecepatan 15-20 Knot atau 30-40 Km per jam. Sehingga perahu layar yag cantik dan tercepat juga mampu menerjang ombak yang besar sekalipun. Beberapa even perlombaan pun kerap digelar untuk membuktikan ketangguhan perahu ini. Untuk melihat dari dekat proses pembuatan perahu cadik yang berlayar ini pun dapat ditemui di Pambusuang Kecamatan Balanipa.

F. ALAM PEDALAMAN

Selain objek wisata alam maritim, perjalanan ke Kabupaten Polewali Mandar juga terasa tidak lengkap jika tidak menempuh perjalanan wisata ke arah pedalaman yang juga menawarkan beragam paket keindahan khas masyarakat agraris. Seperti di daerah Kelapa Dua Kecamatan Andreapi sekitar 10 Km dari Polewali juga dari atas puncak hamparan sawah bersusun milik warga juga menawarkan keindahan yang sangat alami. Atai di Mosso Kecamatan Balanipa serta di Alu Kecamatan Alu dengan khas jalannya yang meliuk dan berberbelok-belok dan dari puncak daerah pegunungan ini panorama matahari tenggelam juga dapat ditemukan menghilang di balik pegunungan dengan tempias cahaya yang sangat cantik. Ditambah panorama liukan sungai �sungai yang tampak eksotik dsari atas pegunungannya.

G. WISATA TIRTA

Di daerah pedalaman selain wisata alam dan jenis buah-buahan yang dapat dinikmati pada musim-musim tertentu, seperti durian, langsat dan rambutan sebagai potensi agro wisata. Tak kalah menarinkya, wisata tirta seperti; air terjung bersusun Indo Rannoang dan pemandian Limbong, keduanya di Kecamatan Andreapi. Selain itu, objek wisata tirta lainnya juga dapat ditemui di Biru Kecamatan Binuang, atau Limbong Miala dan Limbong Kamandang di desa Kurra Kecamatan Tapango.

Ditambah objek wisata tirta Sekka-sekka yang terletak di Batupanga Kecamatan Luyo, sekitar kurang lebih 5 Km dari Polewali. Kendati tidak alami, sebab ai merupakan proyek bendungan irigasi, tetapi ia cukup menawarkan panorama yang indah, sebab ditempat ini acara rekreasi pun dapat berlangsung meriah. Sebab selain dapat digunakan sebagai tempat pemandian dan olah raga berenang, acara memancing ikan air tawarpun dapat dilakukan ditempat ini.

H. WISATA RITUAL

Yang cukup khas dari masyarakat Mandar di kabupaten Polewali Mandar adalah beragamnya ritual-ritual adat yang juga menawarkan kehangatan sekaligus kemegahan sebuah kebudayaan. Karena pada ritual-ritual adat tersebut, selain dapat diamati sebagai peristiwa kebudayaan. Juga secara bersamaan dapat tercermati nilai-nilai luhur yang dianut oleh masyarakat Mandar. Seperti, ritual niparakka�I (pelantikan adat) misalnya. Yang berhak melakukan pelantikan adalah para penghulu adat yang mewakili atau merefresentasi warga masyarakat. Demikian pula bagi yang dilantik, juga mesti telah melalui ritual assipulu-pulungan (musyawarah) untuk menyeleksi appena ( watak) dan pangandaranna (kemampuan) yang lalu dulanjutkan dengan upacara assitaliang (pengucapan) yang dilakukan di depan warga masyarakat dan para penghulu adat. Kendati ritual ini agak jarang ditemukan kecuali pada waktu-waktu tertentu, namun ia cukup menawarkan sebuah fenomena kebudayaan masayarakat yang berdiam di Polewali Mandar.

Ritual lainnya adalah mappatamma (khataman) yang digelar bersamaan dengan pammunuang (maulidan). Yang menarik, sebab ritual serupa ini rutin digelar tiap tahunnya pada bulan-bulan Maulidan dan hampir dilakukan di semua kecamatan di Kabupaten Polewali Mandar, seperti di Tinambung, Balanipa dan Campalagian, serta Limboro dengan daya tarik utamanya, hadirnya perempuan-perempuan Mandar yang cantik nan kemayu menunggangi kuda pattu�du (menari) ditambah dengan pernak-pernik tiri� (telur yang ditusuk serupa sate) yang menghiasi ritual ini. Sedang kuda menari sendiri juga acapkali pula ditampilkan pada ritual-ritual tradisi lainnya seperti tomesunna� (sunatan), pappalikka (perkawinan), dan acara syukuran atau hajatan serta kenduri budaya lainnya. Lengkap dengan tetabuhan rebana dan tembang kalinda�da (sastra lisan Mandar) yang ditembangkan di depan kuda menari tersebut.

I. WISATA SITUS

Situs seakan menjadi kekuatan lain dari keluhuran kebudayaan masyarakat Mandar yang dapat ditemui dibanyak tLempat di Kabupaten Polewali Mandar sebagai pusat kerajaan Mandar saat mencapai Lpuncak keemasannya. Salah satu situs yang sangat monumental adalah, situs atau makam Todilaling atau Imanyambungi mara�dia (Raja) pertama Balanipa. Situs ini dapat ditemui di atas puncak pegunungan dibawah rimbunnya pohon beringin di Napo Kecamatan Limboro sekitar 5 Km dari jalur jalan poros Provinsi Sulawesi Barat.

Sahdan ditempat ini, beberapa perempuan penari dan penabuh rebana serta pengikut setianya dimasukkan ke dalam liang untuk menghibur raja yang telah tinggal jasad itu. Sebagai makna loyalitas dan rasa turut berbelasungkawa yang terdalam. Sehingga menurut cerita yang melegenda, hingga tujuh hari tujuh malam pasca dikebumikan, warga yang ada di sekitar makam masih dapat mendengar suara tetabuhan rebana dari dalam liang makam itu. Hingga akhirnya sunyi senyap, setelah semua pengikut setia sang raja tersebut menghembuskan napas terakhirnya.

Situs lain yang juga menarik untuk dikunjungi adalah situs yang terletak di Alu Kecamatan Alu yang merupakan Makam Ammana Pattowali, salah satu tetua leluhur dan pejuang Mandar. Yang menarik dari situs ini, karena ia tidak dikubur ke dalam tanah, tetapi berdiri tegak dan konon jika situasi dan suhu kampung tidak tenang, semisal akan ada bencana atau keributan di Mandar. Maka situs kuburan ini akan bergerak dan bergeser posisinya. Tetapi akan kembali tegak, ketika kedaan kembali normal. Situs ini terletak sekitar 15 Km ke arah Alu dari jalan poros Kecamatan Tinambung. Untuk sampai di tempat ini, dapat dilalui dengan kendaraan roda empat dan harus melewati jalan berkelok melalui pegunungan dan sepanjang pesisir sungai Mandar.

Selain itu, situs lainnya juga dapat ditemui tidak jauh dari Todilaling di Tammajarra, sekitar 4 Km dari jalan poros, juga diatas puncak bukit adalah situs makam Tomepayung raja kedua kerajaan Balanipa. Yang menarik dalam kawasan situs ini adalah, adanya bala tau (arena sabung orang) yang terbuat dari batu persegi empat dengan luas kurang lebih 4 x 5 meterpersegi. Sebagai tempat eksekusi sengketa yang melibatkan laki-laki. Cukup dengan dibekali keris kedua orang yang bersengketa itu lalu dimasukkan ke dalam arena tersebut. Diyakini, yang terkalahkan sudah pasti berdadi pihak yang salah. Selain arena bala tau, di tempat ini juga terdapat pula tiga tungku besar yang kono adalah tempat untuk mengeksekusi perkara yang melibatkan kaum perempuan. Dengan jalan, kedua pihak yang berperkara memasukkan tanggannya ke dalam tungku yang berisi air mendidih. Hal ini juga diyakini, bagi siapa yang tangannya melepuh maka dialah yang berada di pihak yang bersalah.

Peninggalan situs lainnya, masih pada jaman kerjaan Tomepayung adalah, situs batu yang dikenal sebagai allamingan batu assitaliang yang terletak di Kecamatan Luyo. Sekitar 8 Km dari jalan poros Kecamatan Mapilli. Situs ini adalah simbol dari ikrar persatuan tujuh kerajaan do pedalaman dan tujuh kerajaan di pesisir yang menyatu dalam sebuah komfederasi Mandar abad ke-18.

Wiasata lain yang dapat dikunjungi dan tak kalah menariknya di Kabupaten Polewali Mandar adalah wisata peninggalan sejarah islam. Seperti mesjid Nuruttaubah atau yang lebih dikenal dengan Mesjid Imam Lapeo peninggalan atau warisan Imam Lapeo. Mesjid ini terdapat di Lapeo Kecamatan Campalagian dan berada di jalur jalan poros Provinsi Sulawesi Barat. Sekitar 30 Km dari Polewali. Di samping mesjid ini pulalah makam Imam Lapeo, salah seorang toko sufistik Mandar yang sangat dalam ilmu keagamaanya berada.

Selain itu, mesjid yang juga monumental bagi sejarah perkembangan islam di Mandar adalah, mesjid tua yang terletak sekitar 2 Km dari jalur jalan provinsi. Terdapat di Desa Lambanan Kecamatan Balanipa. Menurut sejarahnya, mesjid ini didirikan sekitar tahun 1600 M.

Sejarah pengembangan islam yang monumental di Mandar juga dapat ditemui pada makam Syech Al Ma�ruf salah satu penganjur agama Isalam yang pertama di Tanah Mandar yakni sekitar abad XVI. Terletak di Pulau Tosalama Ammassangan Kecamatan Binuang, yang untuk mengunjunginya ditempuh melalui perjalanan laut dengan menggunakan perahu motor, waktu perjalanan sekitar 15 menit dari Polewali. Sebagai penganjur agama Islam yang memiliki kedalaman ilmu agama yang sangat luas, maka Sech Al Ma�ruf lalu kemudian dijuluki To Salama (yang dikeramatkan ). Sebagaimana nama tempat beliau dimakamkan.

J.PAKAIAN ADAT

Pakaian adat masyarakat Mandar, utamanya yang ada di Polewali Mandar juga sangatlah beragam. Namun bagi orang Mandar untuk mengenakan pakaian adat tertentu, mesti mengikuti etika dan tradisi yang telah dianut secara turun temurun. Salah satu pakaian adat Mandar yang cukup pupuler adalah, jenis baju pokko dan passigar. Pakaian adat ini biasanya dikenakan pada acara perkawinan oleh pengantin atau pada saat perempuan menunggang kuda pattu�du (menari). Juga pada saat dilangsungkan acara-acara tradisi kenduri budaya lainnya, lengkap dengan pernak �perniknya seperti dali (subang), gallang (Gelang) dan sebagainya.

K.TRANSPORTASI TRADISIONAL

Yang tak kalah menariknya dicermati saat berkunjung ke Polewali Mandar adalah, kendaraan tradional sebagai alat transportasi yang hingga kini masih banyak digunakan oleh warga. Bagi pelancong juga dapat mengendarainya kendaraan-kendaraan tradisional ini seperti bendi yang digunakan dari satu desa ke desa lainnya. Atau kuda tunggangan untuk menuju beberapa desa yang medannya agak berat di beberapa daerah pedalam. Hingga perahu motor maupun perahu layar yang juga banyak digunakan oleh warga yang menyeberang ke pulau-pulau kecil kecil di Polewali. Bahkan sekedar untuk memancing ikan dan kegiatan rekreatif lainnya. Sehari-hari kendaraan serupa ini digunakan warga untuk aktivitas pencaharian nafkah di laut khusus untuk daerah-daerah pesisiran.

L.AKTIVITAS SOSIAL DAN PUBLIK

Aktivitas warga masyarakat Mandar yang ada di Polewali Mandar yang juga cukup menarik dinikmati adalah aktivitas tradisional dalam mencari nafkah di laut maupun di sungai. Mulai dari memancing ikan di laut atau di sungai, atau sekedar mendayung lepa-lepa (jenis perahu tradisional) untuk menambang pasir di sungai Mandar. Aktivitas ini hampir bisa ditemui di sepanjang pesisir pantai yang memanjang mulai dari Kecamatan Binuang hingga Kecamatan Tinambung. Kecuali penambangan pasir dengan menggunakan alat angkut lepa-lepa hanya dapat ditemui di sepanjang sungai Mandar yang membelah Kecamatan Tinambung dan berada di jalur jalan poros Provinsi Sulawesi Mandar.

M. KONSEP NILAI SIWALI PARRI

Hal lain yang sangat menarik dan cukup unik di Mandar adalah meletaknya konsep nilai siwaliparri�. Konsep siwaliparri� sendiri berangkat dari pemahaman akan kebersamaan dan kesetaraan perempuan dan laki-laki dalam menafkahi kehidupan. Hal ini tergambar dari begitu banyaknya perempuan-perempuan Mandar, utamanya ibu-ibu rumah tangga baik di wilayah pedalaman maupun di pesisir yang ikut membantu suaminya dalam mengerjakan kegiatan yang bernilai ekonomi. Untuk mendukung kehidupan rumah tangga mereka. Mulai dari perempuan menambang pasir di sungai Mandar Tinambung, penjemur gabah, pengambil makanan ternak dan pemikul air enau. Untuk aktivitas serupa inidapat ditemukan hampir ditemukan disemua Kecamatan di Kabupaten Polewali Mandar. Hinga kini, konsep ini masih terus dipraktekkan ditengah-tengah masyarakat sebagai sebuah nilai budaya luhur orang Mandar.

N. PEREMPUAN YANG BEKERJA

Sehingga dalam keseharian masyarakat Mandar, utamanya yag berdiam di wilayah Kabupaten Polewali Mandar, pemandangan perempuan-perempuan yang bekerja menjadi sesuatu yang sangat akrab. Mulai dari pembuat gula aren, membuat kasur kapuk, atau perempuan pemecah kemiri serta perempuan pemintal tali. Untuk mengamati aktivitas perempuan-perempuan Mandar ini dapat ditemukan di hampir semua kecamtan. Tetapi untuk aktivitas-aktivitas tertentu, seperti pembuat gula areng dapat ditemukan di daerah pedalaman seperti di Kecamatan Balanipa, Limboro dan Alu serta di beberapa kecamatan lainnya. Demikian pula halnya dengan pembuat kasur kapuk, juga ditemukan di Kecamatan Wonomulyo dan Limboro. Sedangkan perempuan pemintal tali dapat ditemukan di Kecamatan Balanipa dan Limboro.

O. DUNIA ANAK LAUT DAN SUNGAI

Untuk melengkapi kunjungan kita ke Polewali Mandar, di beberapa tempat di dunia permainan anak �anak Mandar juga menawarkan nuansa lain yang menarik, bahkan sayang untuk dilewatkan. Betapa tidak, dari aktivitas permainan mereka, dapat ditemukan kenyataan lain, betapa karibnya mereka dengan alam tempat mereka hidup. Sehingga pemandangan anak-anak yang memancing di pinggir pantai adalah pemandangan yang akan sangat pengasyikkan. Atau di wilayah pedalaman maka mata kita akan dipertemukan dengan dunia riang anak-anak Mandar yang bermain sambil mandi atau mereka yang mengambil air sungai untuk membantu keluarga. Bahkan bisa jadi, akan membuat kita untuk ikut serta menikmati dunia riang mereka. Pemandangan serupa ini dapat kita temukan hampir disemua wilayah pesisiran dan di wilayah pedalaman. Utamanya di sungai Mandar yang bermuara di Kecamatan Tinambung.

P. PASAR TRADISIONAL

Salah satu objek kunjungan yang tak kalah menariknya di Polewali Mandar adalah, pasar-pasar tradisional. Objek ini sangat menarik, sebab beberapa hasil kerajinan dan keterampilan masyarakat Mandar yang bercita rasa tradisional dengan gampang dapat di temukan di tengah-tengah pasar tradisional. Tidak terkecuali makanan khas tradisional mandar juga dapat ditemuka, bahkan dapat dicicipi di pasar-pasar yang juga merata ada hampir di semua kecamatan di Polewali Mandar.

Q. TANGAN TANGAN YANG TERAMPIL

Tak kalah dengan daerah lain, beragam hasil kerajinan dan keterampilan tangan yang bercita rasa artistik tradisional juga dapat dijumpai di Polewali Mandar. Mulai dari proses pembuatan perahu, pembuatan tembikar atau gerabah hingga pada pembuatan keris, parang, jembiah dan senjata tajam lainnya. Khusus pembuatan perahu bermotor maupun yang tradisional dapat ditemui di sepanjang pesisir pantai Kecamatan Campalagian hingga Kecamatan Balanipa dan Tinambung. Untuk pembuatan gerabah atau tembikar dapat pula ditemui di Kecamatan Balanipa. Demikian pula halnya para pandai besi yang menempah keris, jembiah dan senjata tajam lainnya dapat pula ditemukan di Kecamatan Campalagian.

R. SISI LAIN

Sisi lain Kabupaten Polewali Mandar yang juga menarik untuk dimasukkan dalam agenda kunjungan adalah, menengok aktivitas masyarakat kabupaten ini yang memiliki kekhasan tersendiri bagi pejalan budaya dan petandan wisata. Seperti aktivitas nelayan atau penangkap ikan di pesisir dan aktivitas turun sawah untuk yang tinggal di daerah yang memiliki areal persawahan. Sedangkan bagi masyarakat yang tinggal didaerah bantaran sungai akan ditemukan aktivitas mereka ketika turun ke sungai sekedar untuk mandi atau bermain-main. Kesemuanya ini tentu menjadi objek yang juga menarik. Termasuk aktivitas mencari kutu di depan tangga rumah warga diwakt-uwaktu senggang mereka.

S. KESENIAN TRADISIONAL

Salah satu objek wisata di Polewali Mandar yang juga menarik adalah, objek kesenian tradisional mereka. Beberapa kekayaan kesenian tradisional ini dapat dilihat dari kepandaian para seniman tradisi dalam menabuh perkusi jenis rebana dan gendang. Untuk mengamati kegiatan berkesenian mereka dengan pola dan irama khas Mandar dapat dilihat pada saat dilehat acara kenduri budaya atau pesta perkawinan dan acara syukuran. Bahkan acara serupa dapat pula ditemui pada pementasan-pementasan seni taradisional yang memang diperuntukan untuk pergelaran kesenian tradisional masyarakat Mandar.

T. SENI MUSIK TRADISONAL

Selain kepandaian seniman tradisi dalam menabuh perkusi beberapa bentuk kesenian tradisional yang dapat ditemui di Polewali Mandar adalah, kepandaian mereka dalam memainkan kecapi Mandar, keke (alat tiup yang terbuat dari bambu), gongga (alat pukul terbuat dari bambu), calong (alat pukul yang terbuat dari bilah bambu dan batok kelapa). Juga kesenian jenis sayang-sayang yang kesemuanya itu biasa dipertontonkan pada saat digelar acara-acara perkawinan, syukuran dan pergelaran khusus seni pertunjukan.

U. ALAT MUSIK TRADISI DAN DRAMA

Selain alat-alat musik khas Mandar di Kabupaten Polewali Mandar, beberpa bentuk kesenian pun dapat dinikmati seperti pertunjukan seni drama tradisional yang alur ceritanya dan setting penokohannya beranjak dari latar belakang cerita kebudayaan dan tradisi masyarakat Mandar. Karya-karya seupa ini biasanya disusun oleh beberapa kelompok komunitas kesenian rakyat yang memang ajang melakukan aktivitas pertunjukan kesenian rakyat.

V. SENI TARI DAN GERAK

Seni tari dan gerak juga akan menjadi ikon tersendiri masyarakat Mandar di Kabupaten Polewali Mandar, yang menarik untuk dinikmati sebagai persembahan kesenian tradisional. Mulai dari tari tradisional yang menawarkan pergelaran seni tari dengan konsep dasar tari tradisional Mandar seperti Pattu�du hingga pada seni tari yang bersifat eksploratif seperti tari kreasi lainnya. Demikian pula seni gerak lainnya seperti pa�dego dan pa�macca (keduanya sejenis pertunjukan gerak tradisi Mandar) tetapi menyuguhkan gerak-gerak yang indah sehingga layak untuk dikonsumsi sebagai pertunjukan kesenian.

W. SENI KRIYA DAN ARSITEKTUR

Bidang lain dari kesenian khas Mandar yang juga dapat diamati di Polewali Mandar adalah beberapa bentuk ukiran. Mulai dari patung, hingga bentuk-bentuk ukiran untuk hiasan dan rumah-rumah panggung milik warga masyarakatnya. Ada ciri pahatan dan ukiran Mandar yang tersisa disetiap hasil aktivitas kesenian ini. Membuat ia menjadi menarik dan berbeda dengan daerah-daerah lainnya, sebab memiliki nilai dan makna tersendiri sebagai bagian dari pemahaman konsep dasar seni ukir atau pahat dan arsitektur orang Mandar.

X. MAKANAN KHAS

Makanan khas juga menjadi bahagian lain yang menarik untuk dinikmati pada kunjungan setiap orang yang datang ke Kabupaten Polewali Mandar. Ada banyak makanan khas yang tentu tidak akan ditemui di daerah lain. Untuk menikmati makanan khas maka dapat diperoleh di kedai-kedai rakyat yang terdapat di beberapa kecamatan di Polewali Mandar yang untuk mendapatkannya juga langsung dapat dinikmati di tempat pembuatannya. Sekaligus melihat dari dekat proses pembuatannya.

Selain di kedai-kedai rakyat di kampung-kampung, makanan khas Mandar juga dapat diperoleh dibeberapa tempat penjualan di pinggir jalan yang memang telah dipersiapkan menjadi tempat persinggahan bagi para pejalan yang langsung dapat menikmatinya. Seperti di Kecamatan Campalagian dan Tinambung. Selain itu, makanan khas masyarakat Mandar juga dapat diperoleh di beberapa pasar tradisional yang bertebaran hampir di semua kecamatan di Kabupaten ini.

Y. SOUVENIR

Selain penganan atau makanan-makanan khas, untuk melengkapi kunjungan para petandang budaya dan pariwisata di Polewali Mandar. Juga tertawarkan beberapa bentuk dan jenis souvenir yang tersedia di beberapa pasar tradisional. Mulai dari sarung sutera Mandar yang cukup digemari oleh para pendatang dengan keragaman corak dan warna tergantung kepada status penggunanya. Juga bentuk souvenir lain yang berupa keterampilan miniatur perahu sandeq, kecapi Mandar dan beberapa jenis kap lampu yang bahan dan bentuknya diambil dari potensi alam dan budaya Polewali Mandar. Sehingga melakukan perjalanan ke Polewali Mandar, barang bawaan sebagai oleh-oleh bahkan kado perjalanan dari Tanah Mandar kiranya cukup untuk dibagi-bagi sebagai bukti bahwa benar kita telah berkunjung ke Tanah Mandar.

Z. PENUTUP

Segera setelah perjalanan seharian telah terlewatkan di Kabupaten Polewali Mandar. Maka matahari akan kembali ke peraduannya dan mengantarkan setiap pelancong dan pendatang untuk istirahat dan tertidur, seraya mengingat-ngingat kembali betapa indah perjalanan seharian di Tanah Mandar seakan melengkapi sebuah kenyataan bahwa betul kita yang pejalan budaya dan petandang wisata telah menjadi orang Mandar yang sungguh-sungguh orang Mandar. Yang bergumul dan menyatu dengan Mandar dengan segenap lekuk-lekuk irama kebudayaan dan alamnya yang indah nan eksotik. Dengan senyum masyarakat Mandar yang selalu siap merekah kepada setiap pendatang.

Dengan ditemani matahari yang akan tenggelam dan kembali keperaduannya meninggalkan semburatnya dengan warna cantik diatas puncak-puncak perbukitan dan pegunungan. Pengantar lelap dalam tidur panjang di tengah alam Mandar, sebab keesokan harinya kita akan terbangun bersama untuk menatap Polewali Mandar. Menatap Tanah Mandar dengan keanekaragamannya dan keluhuran budayanya sebagai sebuah entitas agung juga luhur.

SITUS SITUS SEJARAH DI POLEWALI MANDAR

MAKAM TOMEPAYUNG

Situs ini berada di Desa Napo, Kecamatan Limboro Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat. I Manyambungi atau lebih dikenal dengan nama Todilaling Raja Balanipa I (pertama). Posisi kerajaan Balanipa dalam Pitu Ba`bana Binanga adalah sebagai bapak/ketua dan sekaligus sebagai pemeran pokok dalam sejarah perkembangan kerajaan –kerajaan di Pitu Ba`bana Binanga. I Manyambungi berasal dari Napo, semasa kecil beliau sering bersabung ayam dengan sepupunya  anak
Tomakaka Napo. Suatu ketika I Manyambungi bersama sepupunya tersebut mengadakan adu ayam (sabung ayam) namun ayam I Manyambungi pada saat itu kalah dan akhirnya I Manyambungi membunuh sepupunya karena merasa malu. Karena peristiwa itulah beliau melarikan diri ke Gowa dengan menumpang perahu Makassar atas usulan Pappuangan Mosso di Campalagian. Setelah sampai di Gowa Ia ditempa menjadi “Juak” anggota militer kerajaan Gowa bahkan pihak kerajaan Gowa pada waktu itu member kepercayaan kepadanya untuk memimpin tentara memerangi musuh – musuh kerajaan Gowa.
Kepopuleran I Manyambungi tersebut didengar oleh pemuka – pemuka masyarakat di daerah asalnya (Mandar), diperburuk oleh adanya kekacauan di dalam negeri waktu itu. Kondisi ini dimanfaatkan sebaik – baiknya oleh pemuka masyarakat untuk menghadap raja Gowa, meminta agar mengembalikan I Manyambungi ke Tanah kelahirannya (Tanah Mandar). Kehadiran I Manyambungi sangat diharapkan, memulihkan tanah Mandar dari kekacauan.
Kembalinya I Manyambungi dari Perantauan sekaligus merupakan tonggak sejarah baru bagi kerajaan Balanipa.
I Manyambungi yang bergelar Todilaling diangkat sebagai Raja Balanipa I dengan meliputi Appeq Banua Kaiyyang (Empat Kampung Besar), yakni Napo, Samasundu, Todang – Todang dan Mosso.
I Manyambungi mempersunting seorang gadis anak keluarga raja Gowa yang dari perkawinan itu lahirlah Tomepayung Raja Balanipa kedua.

MAKAM TOMEPAYUNG

Picture

KOMPLEKS MAKAM TUAN LANGARANG

Picture
Situs ini berada di desa Samsundu, Kecamatan Limboro , Kabupaten Polman, berjarak sekitar 3 km dari ibukota kecamatan Tinambung Letak situs dari jalan desa sudah diaspal berjarak sekitar 150 meter kearah selatan harus ditempuh dengan berjalan kaki melewati jalan setapak pemukiman, sebelah barat dengan kebun pisang, sebelah selatan dan timur dengan kebun pisang dan kelapa, pada ketinggian sekitar 40 meter dari permukaan laut. Keseluruhan makam di situs itu, berjumlah 4 buah dengan rincian 3 besar, dan 1 ukuran kecil berada dalam sebuah rumah atau cungkup dengan dinding tembok dan atap seng. Kondisi fisik sebenarnya cukup terawat karena oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar telah menempatkan seorang juru pelihara ( PNS ) namun karena ulah sekelompok oknum yang mengaku keluarga tokoh yang dimakamkan memberikan cat perak seluruh komponen makam sehingga nampak makam tidak asli. Tokoh utama yang dimakamkan adalah tuan Lamgngarang, beliau selain seorang putra bangsawan yang sangat berjiwa social dikenal pula sebagai muballig atau penganjur agama Islam didaerah  Mandar yang memiliki sejumlah kesaktian. Menurut informasi, konon sewaktu akan melaksanakan ibadah haji ke tanah suci kendaraan yang ditumpangi bukanlah kapal atau perahu malainkan laopi – lopi  kelapa ( anjoro ) di samping kesaktian lainnya dapat mendatangkan hujan lewat doanyan sehingga beliau juga dianggap seorang wali Allah.
Makam lainnya adalah makam Puang di Pangale, Puang ri Camba, dan makam anaknya Puang di Pangale. Menilik bentuk bangunan makam khususnya jirat atau kijing makam Nampak dibuat dengan cara memahat sedemikian rupa sebuah batu monolit ( peti batu ) yang akhirnya terbentuk sebuah bangunan berundak lengkap dengan gunungan yang terletak pada kaki da kepala jirat dan di atas atau di tengah jirat ditancapkan nisan bentuk gada bermahkota  maupun Nisan pipih menyerupai trisula.
Nisan bentuk gada bermahkota adalah nisan yang bentuk dasarnya bulat ( bundar ) dan pada bagian kepala di bentuk sedemikian rupa menyerupai mahkota ataupun kopiah sedang bagian dasarnya dipahat membentuk bidang – bidang. Nisan bentuk pipih adalah nisan yang bentuk dasarnya tipis dan pada puncak dibuat meruncing menyerupai mata tombak.
Hal yang menarik dari bagian – bagian makam di kompleks ini adalah bahwa bangunan makam seakan – akan tidak langsung di lokasi tersebut namun dibuat ditempat lain kemudian dipindahkan ketempatnya yang sekarang. Asumsi ini didasarkan pada kedudukan jirat atau kijing makam yang tidak menyatu dengan tanah disekelilingnya bahkan dasarnya ditopang sejumlah batu karang. Bahkan bahan baku pembuatan makam seluruhnya dari batu karang. Pola hias yang mendominasi jirat dan nia\san adalah pola hias sulu – suluran floraistis dan geometris dalam bentuk pilin ganda, dibuat dengan menggores ( incise ). Inskripsi sebagai
salah satu dasar yang dapat memberikan petunjuk dalam mengungkap identitas yang dimakamkan tidak ditemukan sama sekali.
Ukuran makam sebagai berikut :
  • Makam yang besar, berukuran       :   Tinggi =  95 cm, lebar   = 57 cm, Panjang   = 120 cm
  • Makam yang sedang, berukuran     :   Tinggi = 137 cm, Lebar = 71 cm, Panjang    =  95 cm
  • Makam yang kecil, berukuran        :   Tinggi = 121 cm, Lebar = 56 cm, Panjang    =  72 cm


MAKAM PUANG TOBARANI

Picture
Sesuai dengan namanya, maka di kompleks ini dimakamkan seorang panglima perang kerajaan Balanipa dan keluarganya. Makam ini pada waktu – waktu tertentu masih sering dikunjungi masyarakat Mandar dan sekitarnya.

Situs ini secara administratif berada dalam wilayah desa Tandung, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar. Untuk sampai ke lokasi tersebut dapat ditempuh melalui jalan desa yang sudah diaspal berjarak sekitar 1 km dari poros jalan utama Polewali – Majene. Kompleks makam ini terletak di belakang rumah penduduk yang berbatasan sebelah utara dengan kebun/hutan. Demikian pula sebelah baratnya, sedangkan sebelah timur dan selatan dengan pemukiman dan telah dipagar oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar seluas 40 x 35 meter dengan status tanah milik pribadi/perorangan.

Untuk merawat dan memelihara kebersihan makam oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar telah menempatkan seorang tenaga juru pelihara honor. Jumlah makam yang ada sekitar 125 buah dengan klasifikasi makam yang besar 7 buah, sedang 110 buah dan makam yang kecil 21 buah, dengan orientasi makam utara – selatan sehingga dikategorikan sebagai makam Islam.

Bila diperhatikan dengan seksama nampak bahwa bangunan jirat makam, baik bentuk maupun teknik pembuatannya tidak berbeda dengan makam pada kompleks makam lainnya yaitu hanya berupa sebuah bangunan berundak dari sebuah batu monolit dilengkapi dengan atau tanpa gunungan dengan nisan 1 atau 2 buah bentuk lainnya berupa system papan batu yang dibuat dengan cara susun timbun. Selain itu nampaknya di kompleks ini ada beberapa bangunan makam yang sangat spesifik yaitu jirat makam yang dibuat dari batu monolit dalam ukuran kecil kemudian dipahat membentuk sebuah makam lengkap dengan gunungan dan 2 buah nisan, gunungan dn ini seakan menyatu dengan bentukan nisan balok dengan puncak melebar, bulat. Adapun bentuk nisan pada kompleks makam ini selain bentuk hulu keris dan gada yang selalu ditancapkan secara berpasangan pada sebuah jirat, terdapat pula beberapa buah nisan bentuk batu tegak dn nisan selindrik (balok).

Hiasan yang mengisi bidang – bidang jirat makam, nisan maupun gunungan makam terdiri dari ragam hias sulur – sulur pilin (spiral) dan tumpal, dengan cara pembuatan dengan memahat batu makam sehingga memunculkan sebuah hiasan dekoratif  dalam bentuk ornament – ornament timbul.

KOMPLEKS MAKAM PALLABUANG

Picture
Makam ini terletak di lingkungan Paggiling, Kelurahan Tinambung, Kecamatan Tinambung berada pada ketinggian 70 meter dari permukaan laut. Situs ini dapat dijangkau dengan melewati setapak mendaki yang berjarak 500 meter dari ibukota kecamatan Tinambung. Situs ini terletak di sebuah bukit dengan lingkungan alamnya dipenuhi tanaman palawija seperti kelapa dan pisang.
Kompleks makam ini telah dipagar, dan untuk merawat serta memelihara kompleks makam ini telah ditempatkan juru pelihara ( honor ) dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar.
    Status kepemilikan tanah oleh keluarga Maraddia (H. A. Manda ). Jumlah makam dikompleks ini sekitar 95 buah dan telah dipugar oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar. Dari sejumlah makam yang ada hanya beberapa buah yang diketahui identitasnya yaitu :
  1. Makam Puang Tuppu, beliau termasuk salah seorang pemangku adat di kerajaan Balanipa, makamnya terletak disebelah barat kompleks.
  2. Pamassei, tokoh ini yang paling utama dalam kompleks makam ini, makamnya terletak persis di depan pintu gerbang kompleks makam dan berada dalam sebuah cungkup dengan dinding terali besi. Makamnya telah mengalami pemugaran khusus jiratnya telah diberi tegel keramik. Beliau merupakan anak raja Tokape ( Jaka Talluna Balanipa ) yang turut memperkuat dan melanjutkan perjuangan Maraddia Tokape di bawah pimpinan Ammana I Wewang di dalam melawan penjajah Kolonial Belanda dan sangat gigih berjuang mempersatukan kerajaan – kerajaan Mandar dan mengakhiri perang saudara yang sering terjadi.
Orientasi bangunan /jirat makam mengarah utara – selatan sehingga dikategorikan sebagai makam Islam. Adapun ukuran makam bervariasi ada yang besar, sedang dan kecil. Dibawah ini ukuran masing – masing sampel.

Bangunan / jirat makam yang besar berjumlah 21 buah, berukuran :
Panjang : 364 cm, Lebar : 223 cm, Tinggi : 60 cm,
Yang berukuran sedang sebanyak 40 buah, berukuran
Panjang : 45 cm, Lebar : 62 cm, Tinggi : 80 cm
Yang berukuran kecil sebanyak 34 buah, berukuran :
Panjang : 36 cm, Lebar : 21 cm, Tinggi : 20 cm

Teknik pembuatan bangunan makam ada 2 yaitu :
  1. Dengan system papan batu yang dihubungkan satu dengan yangn lain diikat dengan pen membentuk bangunan berundak 2 sampai dengan 4.
  2. Dengan mempergunakan batu monolit ( peti batu ) dimana yang dikerjakan dan dipahat lebih lanjut hanya bagian atas jirat berupa pembuatan lubang untuk tempat nisan ditancapkan.
Nisan sebagai salah satu komponen makam yang selalu hadir memperlihatkan beberapa tipe yaitu tipe hulu keris, gada bermahkota, pipih menyerupai trisula atau mata tombak dan nsan tidak beraturan.
        Khusus untuk nisan hulu keris dan gada, nampaknya selalu ditempatkan berpasangan pada setiap makam. Unsur lain yang melengkapi makam adalah gunungan yang selalu dipasang pada bagian kaki dan kepala makam namun penempatan gunungan ini biasanya pada bangunan atau jirat yang berundak .
Ragam hias yang ditampilkan di kompleks makam ini sangat bervariasi berupa hiasan florastis dalam bentuk sulur – suluran dan terdapat dalam bentuk pilin dan cakra. Selain ragam hias terdapat pula inskripsi yang menghiasi bidang – bidang nisan bentuk gada bermahkota dan jirat. Kalimat tauhid yang biasa terdapat pada inskripsi adalah Allah dan La ilaha illallah disamping tahun hijriah.
        Ragam hias dan inskripsi tersebut dibuat dengan cara memahat atau mengukir batu makam sehingga tercipta ornament – ornament timbul. Secara keseluruhan bahan bangunan makam, baik jirat, kijing, nisan maupun gunungan terbuat karang.


KOMPLEKS MAKAM TOMAKAKA ALLUNG

Picture
Kompleks makam Tomakaka Allung secara administrative terletak di desa Patampanua Kecamatan Matakali Kabupaten Polewali Mandar. Situs Tomakaka Allung terletak di atas batu (gua – gua batu). Wadah makam dibuat dari kayu berbentuk persegi empat panjang.

Teknik pembuatan dilakukan dengan memahat kayu pada bagian tengah, sampai membentuk lubang, dan bagian atas dibuatpenutup yang bahannya juga dari kayu.

Temuan makam di kompleks tersebut, ada dua buah. Tokoh atau orang yang dimakamkan di lokasi pemakaman tersebut tidak diketahui lagi, dan bentuk pemakaman dilakukan dengan system pemakaman kedua (secondary burial).
Ragam hias pada wadah makam berupa erong yang oleh masyarakat Mandar menyebut Allung, berupa garis – garis dan bentuk ekor binatang pada salah satu bagiannya. Kompleks Makam itu sampai sekarang tetap terpelihara.
Ukuran Allung, pada pemakaman tersebut, adalah sebagai berikut:
Allung I, berukuran panjang 250 cm, lebar 50 cm dengan ketinggian (tinggi Allung) 47 cm. Allung II berukuran panjang 200 cm, lebar 50 cm dan tinggi 48 cm.

MAKAM IMAM LAPEO

Picture
Makam Imam Lapeo
Lokasi makam ini terletak di desa lapeo Kecamatan Campalagian Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat.
Makam Imam Lapeo ini berada dalam kompleks bangunan Mesjid dan disekitar Mesjid dipadati rumah – rumah penduduk. Makam ini sangat mudah dijangkau karena letaknya berada di Jalan Poros Makassar – Majene.
Bangunan makam ada 2 buah yang terletak dalam sebuah cungkup menghadap ke Timur. Yang menarik dari makam ini adalah terdapatnya semacam rangka tempat tidur dari besi di luar badan makan seakan – akan berfungsi sebagai pagar. Bangunan makamnya sendiri nampaknya sudah berupa bangunan modern berorientasi utara – selatan membentuk empat persegi panjangdengan hiasan gunungan pada bagian kepala dan kaki makam. Jumlah Undakan kedua gunungan tersebut tidak sama, gunungan di sebelah utara terdiri dari lima undakan dan undakan gunungan sebelah selatan enam undakan. Adanya perbedaan undakan ini berdasarkan konsep ajaran Islam yaitu adanya rukun Islam dan rukun Iman.
 Adapun nisan makam ini hanya 1 buah terbuat dari kayu ebonik ( kayu hitam) berbentuk gadah, terdiri atas tiga bagian yaitu bagian bawah, bagian tengah dan bagian atas, masing-masing bagian bagian di batasi oleh pelipit. Ragam hias nisan dengan pola tumpal dibuat dengan cara memahat sehingga Nampak berbentuk ornament timbul.
Mengamati penempatan lokasi makam yang berada dalam komplek mesjid menunjukkan adanya kesinambungan dalam tata cara pemakaman yang berasal dari tradisi pra Islam yaitu pada pola penempatan seorang yang dianggap tokoh yang paling dihormati, biasanya penempatan makamnya dalam suatu kompleks yang dianggap suci seperti penempatan makam diatas bukit atau satu kompleks dengan mesjid. Tata laku penguburan seperti ini bersumber pada suatu gagasan atau ide tentang makro kosmos, dan mikro kosmos begitu pula tentang konsep adanya hidup setelah mati.
Berikut ini ukuran bangunan makam dan bagian-bagiannya , masing – masing :
-       Panjang makam : 252 cm
-       Lebar makam 120 cm
-       Tinggi nisan : 100 cm
-       Diameter nisan : 15 cm
-       Tinggi makam hingga nisan : 122 cm
-       Ukuran lingkaran dasar nisan : 80 cm
-       Ukuran badan nisan : 51 cm

SYEKH ABDUL RAHIM KAMALUDDIN

Picture
Situs kompleks Makam  Abdul Rahim Kamaluddin terletak di Pulau Karamasang. Secara Administratif di dusun pulau Tangnga Kelurahan Amassangang Kecamatan Binuang Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat. Tinggalan Budaya di situs tersebut adlah berupa makam kuno sebanyak dua buah, yakni makam Abdul Rahim Kamaluddin dan satu buah makam lainnya belum teridentifikasi.
Kompleks makam itu terletak di lingkungan Pulau Tangnga (Pulau Tosalama), berjarak ± 50 meter dari pemukiman penduduk.
Bangunan makam di kompleks makam tersebut, dibuat dari bahan batu padas khususnya nisan, sedangkan badan makam dibuat dari bahan batu kapur. Teknik pembuatan batu katu kapur dipahatberbentuk segi empat dengan ketebalan sekitar 7 cm, dan tinggi 20 cm. Batu karang yang dipahatkan tersebut dipasang pada semua sisi makam sehingga berbentuk segi empat panjang, dengan ukuran panjang 2 meter, lebar 1,73 meter. Nisan makam satu buah, dari batu padas monolit ditancapkan pada bagian tengah makam. Ukuran batu nisan tersebut tinggi 17 cm, lebar 15 cm dan ketebalan 8 cm.
Bangunan makam tersebut tidak mempunyai ragam hias, baik pada badan makam maupun pada nisannya. Sampai kegiatan inventarisasi ini dilaksanakan di lokasi makam tersebut sering sekali dikunjungi oleh masyarakat.
Tokoh utama yang dimakamkan di lokasi tersebut, adalah Abdul Rahim Kamaluddin, yang diyakini oleh masyarakat sebagai tokoh penyiar Islam pertama di Tanah Mandar.


TOSALAMA BELUWU

Picture
Situs ini terletak di desa Mapilli Barat Kecamatan Luyo Kabupaten Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat. Jarak dari Jalan Poros ± 3 Km dan tidak bisa dijangkau dengan kendaraan Roda Empat.

Syekh Muhammad Idris adalah salah seorang penyiar agama Islam yang terkenal di Tanah Mandar olehnya itu beliau diberikan gelar Tosalama. Tosalama terdiri dari dua kata yaotu To yang berarti Orang Salama yang berarti Selamat.  Jadi Tosalama berarti Orang yang Selamat sedangkan Beluwu adalah nama sebuah perkampungan kecil.

Di kompleks Makam kuno tersebut terdpat sebanyak 89 buah bangunan makam, 19 buah diantaranya berukuran relatif besar dengan bangunan jirat berorientasi Utara ke Selatan. Bangunan makam itu delapan (8) buah diantaranya jirat makam dan nisannya dipahat menyatu padajiratnya. Tipe ini umumnya tanpa hiasan baik Floraistis maupun geometris dua (2) buah jirat yang lain berbentuk massif. Adapun ukuran jirat terbesar yaitu pnjag 1 meter, lebar 41 cm, dsan tinggi 117 cm sedangkan jirat yang berukuran sedang memiliki panjang 62 cm, lebar 11 cm, dan tinggi 50 cm dan jirat yang berukuran kecil memiliki panjang 40 cm, lebar 19 cm dan tinggi 33 cm. Klasifikasi nisan yang rekam sebanyak empat buah, masing – masing berbentuk dasarbalaok dan pipih. Nisan – nisan pipih dan nisan balok dalam bentuk gadah tidak berbeda jauh dengan yang terdapat pada situs lainnya, umunya terbuat dari bahan batu karang. 


TOSALAMA DI TINAMBUNG

Picture
Secara administratif makam ini berada di Lingkungan Paggiling Kelurahan Tinambung Kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar. Terletak di sebelah Selatan atau sekitar 200 m kompleks makam Pallabuang lokasi ini dapat dijangkau dengan berjalan kaki melewati sela-sela tanaman palawija dan tanaman perdu. Dari jalan Desa Kompleks Makam ini berjarak 600 M
Makam yang terdapat di kompleks ini sebanyak 4 buah dan salah satu diantaranya telah diberi cangkup berupa atap seng bahkan nisan yang diberi kelambu. Kondisi fisik makam ini masih baik dan nampaknya selalu mendapat perawatan.
Yang menarik dari kompleks makam ini adalah adanya satu buah makam yang tidak memperlihatkan ciri suatu makam Islam, dan makam ini makam tokoh utama yang dimakamkan dalam kompleks tersebut. Informasi lisan yang diperoleh dari masyarakat setempat menyebutkan bahwa Tosalama ini adalah seorang yang sangat sakti dan pemberani dari Kerajaan Balanipa. Bentuk makamnya sangat khas berorientasi utara selatan sebagaimana layaknya Makam Islam, namun bentuknya bundar dari batu karang putih dengan diameter 60 cm dan di tengah bundaran yang merupakan jirat makam ditancapkan sebuah nisan dengan ukuran yang sangat besar hampir sebesar jirat makam. Nisannya berupa nisan balok menyerupai Gada dengan puncak datar tanpa mahkota. Ukuran nisannya sebagai berikut :
Tinggi 82 cm, diameter 55 cm. Unsur estetika yang nampak pada nisan hanya karena terdapat 8 bingkai atau bidang pada badan nisan. Inskripsi dan pola hias tidak ditemukan sama sekali.
Makam lainnya yaitu yang berada di sebelah kiri makam ini tidak nampak lagi ciri-ciri kekunoan karena sudah diplester semen dengan nisan yang berbentuk pipih.
Makam-makam tersebut pada hari-hari tertentu senantiasa mendapat kunjungan dari daerah Mandar maupun daerah lainnya karena diyakini sebagai makam tokoh yang dapat mengabulkan segala harapan dan keinginan manusia.


KOMPLEKS MAKAM GALETTO

Picture
Kompleks makam ini berada dalam wilayah desa Tamangalle, Kecamatan Balanipa , Kabupaten Polewali Mandar, berjarak sekitar 100 meter dari pantai. Situs ini dapat dijangkau dengan berjalan kaki meyelusuri sepanjang pantai. Kompleks makam tersebut telah dipagar oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar seluas 50 x 30 meter dengan status tanah milik pribadi masyarakat. Di dalam kompleks ini selain makam – makam kuno juga terdapat makam baru.

Mengamati bentukmakam yang berdenah empat persegi panjang dengan arah bujur utara – selatan memberikan indikasi makam Islam. Kondisi fisik makam kuno sebahagian telah rusak, yang utuh hanya 4 (empat) buah. Tokoh utama yang dimakamkan adalah Sangngang Pabbicara Butta dan Gau. Kedua makam ini sekalipun nisannnya berbentuk hulu keris dan gadah bermahkota, demikian pula nisan pipih dalam bentuk trisula masih menampilkan cirri – cri kekunoan, namun jiratnya telah mengalai pemugaran dalam bentuk pemberian tegel keramik.

Memperhatikan bentuk bangunan makam rupanya menampilka teknik pembuatan seperti pada bangunan makam lainnya di daerah Tinambung yaitu berupa jirat makam yang dibentuk dari balok – balok batu yang dipahat membentuk sebuah bangunan berundak 2 sampai 4 dan pada undakan teratas dipercantik dengan gunungan, bentuk lainnya berupa pemakaian batu monolit tanpa gunungan.  Ukuran Makam di kompleks inipun bervariasi ada yang besar dan ada yang kecil:   

  • Makam yang besar, berukuran :       
        Tinggi = 207 cm, Lebar = 94 cm, Panjang = 115 cm
  • Makam yang kecil, berukuran  :         
        Tinggi = 160 cm, Lebar = 71 cm, Panjang = 85 cm

Nisan yang merupakan komponen pokok yang selalu hadir pada setiap makam di kompleks ini, nisannya terdiri dari nisan gada bermahkota, nisan hulu keris dan nisan pipih. Untuk member nuansa keindahan maka ditampilkan berbagai bentu ragam hias, dengan cara mengukir batu makam sehingga menyerupai lukisan timbul. Penempatan ragam hias floraistis dan geometris dan bentuk pilin pada umumnya mengambil tempat pada bidang jirat makam, sedangkan ragam hias medallion dan inskripsi yang berisi kalimat Allah dan Muhammad dalam bentuk yang disamarkan menempati gunungan dan nisan makam. Lebih khusus lagi pemberian hiasan dekoratif ini hanya ditemukan pada bangunan makam yang besar dan berundak sedangkan pada jirat makam monolit tidak diberi hiasan sama sekali. Keseluruhan bahan pembuatan bangunan makam adalah batu karang.


ALLAMUNGAN BATU DI LUYO

Picture Di sebuah daerah yang bernama Luyo kini kecamatan Luyo, Kabupaten  Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat pada masa Pemerintahan Tomepayung (Raja Balanipa II) sekitar awal Abad XVIII. Pitu Ulunna Salu (Tujuh Kerajaan di Hulu/Gunung)  dan Pitu Ba`bana Binanga (Tujuh Kerajaan di Pesisir Pantai) meletakkan satu dasar perdamaian yang lebih dikenal dengan sebutan “Allamungan Batu”.

Pitu Ulunna Salu yang terdiri dari : Tabulahan , Rantebulahan, Mambi, Aralle, Bambang, Matangnga, Tabang
Pitu Ba`bana Binanga terdiri dari : Balanipa, , Sendana, Banggae, Pamboang, Mamuju, Tapalang,  Binuang
Kerajaan – Kerajaan inilah yang mengadakan perjanjian yang lebih dikenal dengan Allamungan Batu di Luyo Pitu Ulunna Salu diwakili oleh Londong Dehata dan Pitu Ba`bana  Binanga diwakili oleh Tomepayung yang pada akhirnya melahirkan tiga Poin kesepakatan yaitu:
  1. To di Ba`bana Binanga nammemmata di mangiwang, di Pitu Ulunna Salu namemmata di saha.” Maknanya, bila ada musuh yang datang dari arah pesisir Pantai, maka Pitu Ba`bana Binanga akan menangkalnya, sebaliknya bila ada musuh yang datang dari pegunungan, maka Pitu Ulunna Salu yang menangkalnya.
  2. “Sisara`pai mata mapute anna mata malotong anna mane sisara`I Pitu Ulunna Salu anna` Pitu Ba`bana Binanga.” Maknanya, hanya dengan berpisahnya bola mata yang berwarna putih dan bola mata yang berwarna hitam baru bisa terpisahkan Pitu Ulunna Salu dan Pitu Ba`bana Binanga.
  3. “Sapala Tappere disolai”. Maknanya Satu Tikar Bersama.
Demikianlah 3(tiga) poin kesepakatan yang dilahirkan pada  Allamungan Batu di Luyo yang mencerminkan semangat persatuan dan kesatuan, persaudaraan, demokrasi  serta rasa patriotisme yang sangat tinggi dan sudah terpatri dalam dada di kerajaan Pitu Ulunna Salu dan Pitu Ba`bana Binanga. Pada perjanjian itu disepakatilah dikukuhkannya beberapa hal: Pitu Ulunna Salu dengan Pitu Ba`bana binanga, Maallongan mesa ma`lante Samballa (maknanya sama dengan diatas Satu tikar satu bantal kita bersama). Di Pitu Ulunna Salu memegang sapu tangan dan Pitu Ba`bana Binanga memegang Simbolong. Adapun makna kedua benda itu yang menjadi pegangan masing – masing adalah menempatkan konteks perdamaian di atas segala – galanya. Penjabarannya, bahwa Pitu Ulunna Salu dan Pitu Ba`bana Binanga sama derajatnya berada dalam posisi yang sama. Jika bias diandaikan ketika sedang tidur sama melantai. Dan kalau Pitu Ba`bana Binanga memiliki perlengkapan, demikian pula seharusnya di Pitu Ulunna Salu memiliki perlengkapan yang sama.

Di Pitu Ulunna Salu memiliki sapu tangan atau sehelai kain yang diikatkan sebagai pengganti kopiah, sedangkan Pitu Ba`bana Binanga berpegang pada simbolong (sanggul perempuan) yang diikatkan pada pinggang. Perdamaian antara Pitu Ulunna Salu dan Pitu Ba`bana Binanga itu dikuatkan lagi dengan satu semboyan, “sisara`pai mata mapute anna` mata malotong anna` sisara` Pitu Ulunna Salu anna` Pitu Ba`bana Binanga”.

Kedua perwakilan dari kedua wilayah (daerah) tersebut berpesan, sekiranya besok lusa terdapat ucapan atau kekeliruan diantara warga wilayah ini maka salah satu pihak wajib saling mengingatkan. Jika satu diantaranya roboh, kita saling menopang. Semoga pesan ini kita bias wariskan kepada anak cucu. Bila berpegang teguh pada keduanya, maka sengketa dan perang tak akan terulang lagi dikemudian hari. Inilah yang memungkinkan untuk dijadikan landasan dalam menghormati kedaulatan masing – masing wilayah, saling membantu dalam menghadapi musuh dan memperarat hubungan kekeluargaan.

Dari perjanjian ini pula lahir kata Sipamandar/Sipamanda` yang berarti saling menguatkan yang kemudian lebih popular dengan kata Mandar yang melekat hingga kini di Jazirah Pitu Ulunna Salu dan Pitu Ba`bana Binanga. Satu hal yang menarik pasca “deklarasi” perjanjian itu (Allamungan Batu) hampir bias dikatakan pertikaian pun sirna. Sebuah peletakan dasar dalam membangun suatu peradaban dikawasan yang luas ini, yang dirumuskan dan dikukuhkan pada masa silam menorehkan sebuah prestasi yang agung. Katakanlah, perdamaian ini digagas oleh para pemimpin kerajaan pada masa lalu yang merupakan tonggak berdirinya “demokrasi”.

Perlu diketahui bahwa Wilayah Pitu Ulunna Salu dan Pitu Ba`bana Binanga merupakan dasar dari penentuan wilayah Propinsi Sulawesi Barat sekarang ini. Jadi dapat diakatakan bahwa wilayah Mandar yang sekarang jadi Sulawesi Barat lahir di sebuah Desa kecil yang bernama Desa Luyo, Kecamatan Luyo Kabupaten Polewali Mandar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar